Sunday, July 4, 2010

Being Lecture...

Kerjone Sak Dus,,gajine sak sen...

Kata di atas mungkin menjadi salah satu anekdot yang sering saya dengar melalui teman ketika mereka mengetahui bahwa saya menjadi dosen. Miris memang, karena stereotip seperti ini mendiskreditkan profesi dosen. Apa salahnya menjadi dosen yang gajinya kecil. Tapi, sebenarnya gaji dosen tidak sekecil yang dianggap orang lain. Mungkin karena rata-rata orang yang berprofesi sebagai dosen tidak ada yang kaya (tapi gak semua lho!!!). Jadi bisa dianggap bahwa gaji dosen kecil.

Dosen bukan profesi profit, itu menurut saya. Entah jika ada yang beranggapan lain. Memilih menjadi dosen adalah sebuah panggilan jiwa, karena jarang sekali ada orang yang ingin mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Apalagi jika hanya digaji dengan gaji yang relatif kecil. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa ada orang yang tidak menjadikan profesi dosen hanya sebagai batu loncatan untuk pekerjaan lain.

Saya masih ingat ketika masih kuliah dulu. Ada dosen saya yang munculnya hanya 3 kali dalam satu semester karena terlalu sibuk mengurusi proyek. Akhirnya mahasiswanya tidak mendapatkan ilmu dari mata kuliah tersebut. Memang sih,,nilai yang diperoleh relatif tinggi. Tapi rasanya bukan hanya itu yang dikejar oleh mahasiswa. Apalagi sayang kan sudah membayar SPP hanya untuk IPK, bukan ilmu kuliah. Rasanya hal inilah yang mendorong saya untuk menjadi dosen. Saya tidak ingin mahasiswa yang berniat mendapat ilmu di perkuliahan harus kecewa karena dosennya sibuk dengan proyek.

Kehidupan dosen yang kadang serba pas-pasan sebenarnya tidak bisa dipungkiri. Mungkin hal inilah yang mendorong mereka untuk mencari penghasilan di luar kewajiban untuk mengajar. Tapi apakah adil ketika kewajiban untuk mengajar mahasiswa ditinggalkan? Kenapa tidak mencari pekerjaan yang lain saja jika tidak sanggup untuk mengajar? Miris memang, karena pendapat seperti ini selalu ditentang. Bahkan saya pernah berdebat soal kehidupan dosen. Ketika itu saya mengkritisi dosen yang suka "ngamen". Tapi saya dihadapkan dengan pertanyaan apakah saya sudah punya anak dan istri? Saya dinilai tidak memikirkan keadaan mereka yang sudah berkeluarga dan tidak bisa berharap banyak dari gaji seorang dosen. Seharusnya keadaan ini dimengerti oleh pemerintah, supaya bisa meningkatkan taraf hidup para pengajar. Bukan hanya dengan menggembar-gemborkan 20% APBN untuk pendidikan, tapi nihil dari sisi implementasi. Tapi, itulah Indonesia dimana pengajar tidak dipandang penting. Pengajar hanya dijadikan komoditas kampanye politik semata. Hal inilah yang menurut saya memaksa para dosen untuk mencari penghasilan lain di luar kewajibannya.

Saya sangat berharap kehidupan para pengajar bisa menjadi makmur, sehingga mereka dapat mengajar dengan penuh dedikasi. Saya berharap tetap bisa bertahan dan memperjuangkan pendidikan di Perguruan Tinggi Teknokrat. Menjadi dosen bukanlah sebuah pilihan profesi, tapi panggilan jiwa.

SELAMAT DATANG MAHASISWAKU. AKU MENCINTAI KALIAN SEMUA.

2 comments:

Kumbang said...

Kata-katanya mantep banget pak,sampai merinding bacanya.....
terus semangat pak demi kita sebagai mahasiswa yang sedang mencari penerangan ilmu.....

defi... said...

sip2.....
ganbate kudasai...
menjadi penerang ya pak,tp jng kya lilin ya pak, jadi matahari aja.
jadi lilin kita menolong tapi diri tak tertolong sie.
Matahari bisa menerangi siapapun tapi diri juga semakin kuat.