Friday, December 31, 2010

Kebebasan Berpikir

Siapa yang tidak kenal dengan Wolfgang Amadeus Mozart, Albert Einstein, Linus Torvald, Mark Shuttleworth, dan Mark Zuckerberg. Karya mereka telah mendunia di bidang yang mereka geluti. Karya yang mereka hasilkan menjadi sebuah tren bagi insan manusia. Mengapa mereka mampu menghasilkan karya yang begitu dahsyat? Jawaban yang bisa saya berikan adalah karena mereka bebas dalam berpikir. Inilah topik yang menjadi critical issue di lingkungan saya sekarang. 

Apa jadinya Teori Relativitas jika Einstein masih terkungkung dengan teori Newton? Apa jadinya  Facebook jika Mark terkungkung dengan tekanan yang diberikan oleh lingkungannya? Tentu saat ini kita tidak akan merasakan kehebatan karya itu. Mereka berpikir bebas dan tidak terlalu takut dengan keadaan yang ada di luar mereka. Bahkan mereka bisa menciptakan lingkungan mereka sendiri. Tapi apakah semua orang bisa melakukan itu? Bisa ya bisa tidak. Orang yang mampu melakukan hal itu adalah orang yang awalnya berasal dari lingkungan yang sudah mengedepankan kemandirian berpikir. Tapi orang yang tidak berasal dari lingkungan seperti itu akan terkungkung dengan lingkungan pragmatis dan statis. 

Saya melihat kebanyakan orang yang mengalami hal ini adalah mahasiswa saya sendiri. Saya selalu bertanya mengapa mereka terlalu takut untuk berpikir kreatif. Dan baru-baru ini saya menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan saya selama ini. Ternyata lingkungan yang mereka tempati adalah lingkungan yang mengungkung kebebasan itu sendiri. Ketika saya berusaha mengajak mereka untuk berpikir bebas, mereka seolah-olah takut akan sesuatu. Terkadang mereka hanya bisa bercerita di belakang, tapi tidak bisa menyatakan hal itu secara frontal. Mungkin ini adalah lingkungan jelas-jelas berbeda dengan lingkungan saya ketika kuliah dulu. 

Apa kiranya yang dapat saya lakukan untuk membawa mereka untuk berpikir bebas? Tidak perlu bertindak secara bebas, berpikir dulu. Tentunya kebebasan ini bukan berarti kebebasan yang tidak mengikuti aturan moral. Jangan sampai tulisan ini diartikan sebuah bentuk provokasi untuk bertindak bebas tanpa etika yang baik. Kebebasan ini berarti kemerdekaan kita untuk menentukan pilihan kita sendiri tanpa harus ikut dengan kata orang lain. Kebebasan ini juga yang diharapkan dapat membangkitkan jiwa muda mahasiswa untuk berkreasi. Bukankah semboyannya Kreatif dan Inovatif? Jadi mengapa harus mengungkung kreativitas pemikiran itu sendiri? Biarkanlah jiwa muda itu mencari jalannya sendiri. Saya hanya bisa menunjukkan beberapa jalan yang boleh ditempuh. Tapi tidak harus dipilih. 

At last. I hope we can make it real. 

Independence of Thought for the Greatest Creation

Friday, October 15, 2010

Where's the chili sauce sarden?

"Coba perhatikan...yang ada di rak jual cuma Sarden Saus Tomat...(Lho iya...)"

Pertanyaan ini menggelayut di kepala saya ketika bulan lalu saya ingin membeli sarden saus cabe yang saya gemari. Ternyata apa yang terjadi, saya tidak menemukan satu pun sarden yang saya inginkan. Semua yang tersusun rapi di rak hanya sarden saus tomat. Saya menjadi bertanya-tanya kenapa hanya saus tomat yang dijual. Ada apa dengan saus cabe?

Saya mencoba mencari berita yang terkait dengan sarden saus cabe. Tapi hasil yang saya dapatkan nihil. Tidak satu pun berita atau artikel yang menuliskan berita atau info tentang hal tersebut. Saya menjadi bertanya-tanya kenapa saus cabe yang dulunya masih dijual, sekarang sudah tidak ada. What's wrong? No one knows.

Monday, September 27, 2010

Gerbang Baru

"Maksud keluarga besar bapak Baco kami terima dengan penuh keikhlasan"..Alhamdulillah

Kalimat itu masih kuat terngiang di kepala saya. Senang, gembira, terharu, dan banyak lagi yang tercampur  menjadi satu perasaan yang membuat saya sangat bersyukur pada Allah. Perjalanan empat tahun akan segera berakhir dengan dimulainya tahun yang baru untuk menghadapi cobaan hidup berumah tangga. Yah, tepat 26 September 2010 adalah hari bersejarah bagi saya. Hari itu menjadi saksi antara saya dengan Ike untuk mulai menatap hari esok dengan tujuan yang lebih jelas lagi dalam menjalin hubungan. Tulisan ini hanya sebuah ungkapan rasa gembira, dan mungkin sekaligus sebagai penyampaian bagi semua orang bahwa "pasar" sudah tutup ^_^.

Mudah-mudahan dalam perjalanan empat bulan mendatang, cobaan itu bisa saya hadapi dengan penuh keikhlasan dan ketenangan. Januari segera kutunggu hadirmu untuk membuatku menjadi raja sehari saja. Amin...

Wahai hati yang berbunga
Jagalah mekarnya di lubukmu yang dalam
Wahai kasih yang tercinta
Akan kujaga sepenuh jiwa dan raga

Monday, August 30, 2010

Married Plan

"Wahai Jejaka,aku nikahkan dikau dengan Dara Binti Fulan dengan mas kawin emas 20 gram TUNAI"
(Tok Penghulu)

NIKAH. Siapa yang tidak ingin menuju ke sana? Pasti semua orang ingin merasakan bagaimana pernikahan itu. Tapi tidak semua orang yang benar-benar bisa merasakan pernikahan. Tapi terkadang ada orang yang tidak percaya lagi dengan kehidupan pernikahan. Bagi saya, pernikahan adalah gerbang untuk menyempurnakan agama. Bagaimana tidak? Pernikahan mempertemukan dua insan, dua keluarga, dua kebiasaan yang berbeda, dan banyak lagi yang dipertemukan. Harapan pernikahan agar tumbuh menjadi keluarga baru yang diberkahi oleh Allah.

Saya terkadang berpikir, mengapa terkadang rasanya begitu berat untuk menuju jenjang pernikahan. Mungkin karena masih merasa kehidupan lajang lebih indah, atau belum siap secara fisik maupun mental. Atau ada sebuah tuntutan yang harus dipenuhi untuk menuju jenjang pernikahan. Baru saja saya membahas tentang ritual pernikahan yang dilaksanakan oleh setiap suku yang ada di Indonesia. Ada suku yang begitu ketat dengan adat mereka, sehingga pernikahan harus serba mewah. Kalau perlu jual tanah pun dilakukan demi menyelenggarakan pesta pernikahan. Jika tidak ingin malu dengan dewan adat mereka. Ada suku yang mengharuskan lelaki membeli semua gelar yang dimiliki oleh sang perempuan. Semakin banyak gelar yang dimiliki, semakin banyak juga dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan pernikahan.

Terlepas dari semua itu, sebenarnya saya berpendapat bahwa nikah tidak perlu terlalu mewah. Apalagi jika dana tidak mencukupi untuk pesta pernikahan. Pernikahan adalah peristiwa sakral yang seharusnya diisi dengan memohon doa pada Sang Khalik agar diberi kemurahan dalam rezeki, dan kemudahan dalam menjalani rumah tangga. Setidaknya saat walimatul 'ursy, ada keluarga dekat maupun yang jauh datang agar mengetahui berita gembira dalam keluarga mereka. Itu sudah cukup menurut saya. Tapi jika ada kelebihan dana, barulah bisa diisi dengan memberikan hiburan bermanfaat bagi tamu undangan. Bukan dengan lagu erotis yang terkadang terjadi di beberapa tempat.

Tulisan ini sebenarnya membuat saya lebih tenang dalam menghadapi persiapan pernikahan. Juga sebagai sedikit kerisauan dalam hati, apakah nantinya bisa mengemban tugas sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga kelak di kemudian hari. Semoga semua yang telah dipersiapkan dapat terlaksana dengan baik. Jika Allah menghendaki, niscaya semua akan terlaksana. Amin.

Kelana berjalan di balik dinding
Mencari sela kokohnya tugu batu
Rindu terkasih tak tertanding
Berharap segenap hati menjadi satu

Thursday, August 26, 2010

Mahasiswa Dungu

"Ada pertanyaan? (suasana hening). Sudah paham? (suasana tetap hening). Ada yang kurang dipahami? (Suasana tetap hening). Ada yang ingin menyampaikan pendapatnya (suasana semakin hening)"

Kondisi di atas sering dialami oleh pengajar dan saya juga tidak lepas dari kondisi tersebut. Terkadang saya bertanya-tanya, mungkinkah materi yang saya sampaikan tidak membuat mahasiswa bersemangat? Atau mungkin memang mahasiswa tidak semangat untuk mengikuti kuliah? Entahlah, kondisi ini sangat jelas terjadi setiap pertemuan kuliah. Mahasiswa tidak menjawab ketika ditanya, atau mungkin mahasiswa tidak bisa berpikir. Mata mereka menatap kosong ke arah slide yang terpampang di dinding kelas. Entah pandangan itu menunjukkan keseriusan atau bahkan masa bodoh dengan materi kuliah. Hadir saja itu sudah untung, apalagi memahami materi.

Permasalahan lainnya adalah mahasiswa tidak mau bertanya jika mereka tidak tahu dengan materi yang disampaikan. Saya mengajar lebih dari 100 orang mahasiswa, dan jari tangan ini masih cukup untuk menghitung mahasiswa yang rajin bertanya. Selebihnya lebih baik memilih diam jika tidak paham. Nanti giliran ujian akhir, mereka akan protes dan mengatakan soal ujian tidak sesuai yang pernah diajarkan di kelas. Atau bahkan mereka mengatakan materi tersebut tidak pernah diajarkan di kelas. Akhirnya penilaian pun mendapat toleransi yang tinggi. Jika mahasiswa mendapatkan nilai yang jelek, masih bisa diperbaiki dengan mengerjakan tugas tertentu. Tentu bagi saya ini adalah pelanggaran terhadap keseteraan nilai bagi mahasiswa yang lain. Bagi saya tidak ada lagi perbaikan nilai setelah nilai akhir dikeluarkan.

Kondisi di atas sebenarnya membuat saya miris dengan kondisi kehidupan pendidikan kita. Mahasiswa lebih senang "disuapi" oleh dosen daripada mereka mencoba mencari pertanyaan untuk materi perkuliahan yang diberikan oleh dosen. Hal ini juga membuat dosen menjadi superior dan menganggap dirinya paling tahu semua hal. Mahasiswa tinggal mengikuti apa kata dosen. Akhirnya tradisi mengulangi kesalahan menjadi budaya baru di lingkungan perguruan tinggi karena baik dosen dan mahasiswa tidak berusaha merombak tradisi tersebut. 

Dosen seharusnya bisa menstimulus mahasiswa untuk selalu punya rasa keingintahuan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Tapi tidak hanya sampai di situ saja, lingkungan kampus juga harus mendukung hal tersebut, misalnya peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak perguruan tinggi diterapkan dengan benar. Mahasiswa juga diajarkan untuk disiplin. Porsi tugas juga diberikan kepada mereka. Jika mahasiswa mendapatkan tugas dan harus menyelesaikan tugas tersebut dalam rentang waktu tertentu, maka harus dipenuhi dengan kedisiplinan yang tinggi. Dosen pengajar juga harus mencari alternatif lain, misalnya menyediakan literatur yang harus dibaca oleh mahasiswa serta selalu ada kegiatan diskusi di kelas untuk mencoba menggali keingintahuan mahasiswa.

Kau jiwa muda yang haus ilmu
Luas terbentang samudera untuk kau arungi
Jika kau lengah, tenggelamlah kau di dasar kebodohan
Jangan jadi mahasiswa dungu yang sukanya menunggu
Jadilah mahasiswa yang selalu ingin tau
Selalu ingin maju
Dan aku akan besertamu

Tuesday, August 17, 2010

Menjadi Bangsa Merdeka

"..., maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
(Pembukaan UUD 1945)

Tak terasa kita telah melewati 65 Tahun sebagai bangsa yang telah menyatakan kedaulatannya di mata dunia. Seluruh pelosok negeri membahana lagu Indonesia Raya dan Hari Merdeka. Tak lupa juga Perguruan Tinggi Teknokrat Lampung menyambut hari kemerdekaan ke-65 dengan menyelenggarakan upacara bendera. Hati saya terketuk, bahwa di balik keterbatasan yang dimiliki, Teknokrat tetap menjunjung semangat kemerdekaan yang sampai saat ini mulai pudar di kalangan dunia pendidikan. Padahal telah jelas bahwa tujuan kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi mengapa bangsa kita semakin kurang kecerdasannya untuk mengenang pahlawan kita?

Upacara semakin khidmat setelah Perguruan Tinggi Teknokrat memberikan penghargaan kepada beberapa mahasiswa dan pendidik serta staf Teknokrat yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk memajukan pendidikan nasional dan mengharumkan nama Teknokrat. Saya bertanya, adakah perguruan tinggi yang mau memberikan penghargaan bagi tenaga didik mereka yang telah berdedikasi bagi kemajuan pendidikan? Apalagi jika penghargaan yang diberikan merupakan kas murni milik perguruan tinggi. Saya saat ini sangat bangga menjadi bagian dari keluarga besar Teknokrat.

Saya sangat berharap semangat kemerdekaan hari ini menjadi tonggak untuk tetap berusaha mencerdasakan kehidupan bangsa. Sekalipun apa yang bisa saya dan teman-teman pendidik di Teknokrat lakukan masih bisa dikatakan kecil. Semoga semua pendidik yang tergabung di Teknokrat tetap menjunjung tinggi semangat ini dan akan lebih berbahagia jika semua pendidik di Lampung menjunjung tinggi kemerdekaan bangsa Indonesia.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-65...
RAGAKU DAN BAKTIKU UNTUKMU..

Saturday, August 14, 2010

Kreativitas yang Dipasung

"Kamu harus kreatif,,tapi kamu harus ikut cara saya. Jangan cara yang lain"

Kreativitas terkadang dipandang oleh sebagian orang sebagai suatu hal yang tidak penting. Namun siapa sangka jika sebenarnya kreatif itu sangat penting bagi kita dalam menentukan sikap. Orang mungkin kadang berkata bahwa yang kreatif adalah orang yang pintar. Orang yang selalu menempati rangking tinggi di sekolah maupun di kuliah. Namun sebenarnya konsepsi ini salah persepsi. Orang kreatif tidak harus pintar dari sisi angka. Orang kreatif itu otaknya cerdas sekalipun jika di sekolah atau kuliah, nilainya tidak selalu memuaskan. Kreatif adalah sikap kita dalam memandang suatu permasalahan. Solusi yang dikeluarkan pun bukan solusi sementara, tapi solusi yang benar-benar punya kemanfaatan. Kreatif akan menggiring kita bagaimana mengeluarkan ide-ide cemerlang.

Saya terkadang sedih melihat mahasiswa yang tidak bisa bertindak kreatif, sehingga apapun yang mereka lakukan harus terukur dengan nilai. Paham atau tidak paham bukan urusan mereka, yang penting nilainya bagus. Bahkan hanya untuk menyontek hasil pekerjaan teman mereka pun tidak kreatif. Saya pernah menemukan seorang mahasiswa yang mengumpulkan tugas hasil contekan tanpa menghapus nama pemilik tugas yang diconteknya. Entah antara sedih dan lucu melihat kejadian itu. Atau bahkan tugasnya persis sama. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang saya ajarkan masih belum tergali potensinya. Hal ini membuat saya bertanya, apakah cara mengajar saya salah selama ini? Atau memang mahasiswanya yang tidak bisa berfikir panjang? Atau mungkin ada sesuatu yang membuat mereka tidak tergali potensinya?

Tapi saya tidak menganggap bahwa mahasiswa itu pemalas atau terlalu berorientasi nilai. Saya selalu berusaha beranggapan positif bahwa mahasiswa yang saya ajarkan kreatif. Dari sikap ini setidaknya bisa membuat saya untuk selalu mencari cara agar kreativitas yang dimiliki oleh mahasiswa bisa digali. Saya melihat bahwa mahasiswa termarjinalkan keilmuannya oleh sistem. Sistem yang seharusnya menciptakan lingkungan akademis, justru malah menciptakan lingkungan yang apatis terhadap ilmu pengetahuan. Akhirnya ilmu pengetahuan yang seharusnya membuat mereka bisa kreatif, hanya dianggap alat untuk mendapatkan ijazah sarjana atau diploma.

Tulisan ini bukan bermaksud menampakkan pesimistis. Justru tulisan ini untuk membuat lebih optimis bahwa mahasiswa itu memiliki kreativitas tersendiri. Tinggal bagaimana kita membuat lingkungan yang membuat potensi mereka tergali. Masih segar dalam ingatan saya (karena baru tadi sore dibicarakan..hehe). Teman sesama dosen juga merasa ada yang salah dengan keadaan ini. Akhirnya kami sepakat bahwa mahasiswa tidak bisa kreatif karena "dipasung" oleh sistem.

Sistem yang ada sekarang memang tidak bisa dikatakan buruk, tapi sangat jauh jika dikatakan baik. Entahlah, apa kata yang tepat untuk menggambarkan sistem sekarang ini. Saya berfikir jika mahasiswa diberi kepercayaan untuk berkreasi, saya yakin kreativitas yang selalu disemboyankan tidak hanya menjadi pemanis dalam semboyan kampus. Jangan mahasiswa 'dikerangkeng' hanya karena kita takut mereka akan berbalik menyerang kita ketika sudah berfikir mandiri. Justru karena dikekang mereka akan menjadi bom waktu untuk kita ke depan. Tidak perlu lagi mereka harus disuap untuk menentukan tindakan. Seharusnya sistem tinggal memantau mereka, tanpa intervensi secara langsung. Dosen hanya orang di balik layar yang hanya bisa memantau usaha mahasiswa. Membetulkan jika ada yang salah, dan mengapresiasi jika ada yang benar. Bukan membuat mereka menjadi sapi perahan. Saya sangat berharap ke depannya nanti, mahasiswa menjadi lebih kreatif dan berilmu pengetahuan.

WAHAI MAHASISWAKU...Semangat selalu...jangan pernah mengeluh...


Sunday, July 4, 2010

Being Lecture...

Kerjone Sak Dus,,gajine sak sen...

Kata di atas mungkin menjadi salah satu anekdot yang sering saya dengar melalui teman ketika mereka mengetahui bahwa saya menjadi dosen. Miris memang, karena stereotip seperti ini mendiskreditkan profesi dosen. Apa salahnya menjadi dosen yang gajinya kecil. Tapi, sebenarnya gaji dosen tidak sekecil yang dianggap orang lain. Mungkin karena rata-rata orang yang berprofesi sebagai dosen tidak ada yang kaya (tapi gak semua lho!!!). Jadi bisa dianggap bahwa gaji dosen kecil.

Dosen bukan profesi profit, itu menurut saya. Entah jika ada yang beranggapan lain. Memilih menjadi dosen adalah sebuah panggilan jiwa, karena jarang sekali ada orang yang ingin mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Apalagi jika hanya digaji dengan gaji yang relatif kecil. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa ada orang yang tidak menjadikan profesi dosen hanya sebagai batu loncatan untuk pekerjaan lain.

Saya masih ingat ketika masih kuliah dulu. Ada dosen saya yang munculnya hanya 3 kali dalam satu semester karena terlalu sibuk mengurusi proyek. Akhirnya mahasiswanya tidak mendapatkan ilmu dari mata kuliah tersebut. Memang sih,,nilai yang diperoleh relatif tinggi. Tapi rasanya bukan hanya itu yang dikejar oleh mahasiswa. Apalagi sayang kan sudah membayar SPP hanya untuk IPK, bukan ilmu kuliah. Rasanya hal inilah yang mendorong saya untuk menjadi dosen. Saya tidak ingin mahasiswa yang berniat mendapat ilmu di perkuliahan harus kecewa karena dosennya sibuk dengan proyek.

Kehidupan dosen yang kadang serba pas-pasan sebenarnya tidak bisa dipungkiri. Mungkin hal inilah yang mendorong mereka untuk mencari penghasilan di luar kewajiban untuk mengajar. Tapi apakah adil ketika kewajiban untuk mengajar mahasiswa ditinggalkan? Kenapa tidak mencari pekerjaan yang lain saja jika tidak sanggup untuk mengajar? Miris memang, karena pendapat seperti ini selalu ditentang. Bahkan saya pernah berdebat soal kehidupan dosen. Ketika itu saya mengkritisi dosen yang suka "ngamen". Tapi saya dihadapkan dengan pertanyaan apakah saya sudah punya anak dan istri? Saya dinilai tidak memikirkan keadaan mereka yang sudah berkeluarga dan tidak bisa berharap banyak dari gaji seorang dosen. Seharusnya keadaan ini dimengerti oleh pemerintah, supaya bisa meningkatkan taraf hidup para pengajar. Bukan hanya dengan menggembar-gemborkan 20% APBN untuk pendidikan, tapi nihil dari sisi implementasi. Tapi, itulah Indonesia dimana pengajar tidak dipandang penting. Pengajar hanya dijadikan komoditas kampanye politik semata. Hal inilah yang menurut saya memaksa para dosen untuk mencari penghasilan lain di luar kewajibannya.

Saya sangat berharap kehidupan para pengajar bisa menjadi makmur, sehingga mereka dapat mengajar dengan penuh dedikasi. Saya berharap tetap bisa bertahan dan memperjuangkan pendidikan di Perguruan Tinggi Teknokrat. Menjadi dosen bukanlah sebuah pilihan profesi, tapi panggilan jiwa.

SELAMAT DATANG MAHASISWAKU. AKU MENCINTAI KALIAN SEMUA.